Logo

Prasetya, Juara Kriya lewat Mainan Tradisional Burung Kuau Tarik

" width=

" width=

BENGKULU – Prasetya Henokh Imanuel siswa keturunan darah Jawa Batak ini kerap kali menghiasi namanya dibeberapa perlombaan. Baru baru ini dirinya berhasil menyambet juara satu Kriya dengan tema ‘Mainan Tradisional Burung Kuau Tarik’  dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) se Provinsi Bengkulu.

Memang sedari dulu dirinya juga sudah tertarik dengan dunia kriya yang digeluti sang kakak. Siapa sangka dirinya terinspirasi dan mengikuti jejak sang kakak dalam meraih juara perlombaan tingkat Provinsi.

“Kalau ikut lomba kriya ini saya memang tertarik dari dulu.Karena kakak saya juga pernah menjadi juara satu lomba kriya tingkat provinsi, jadi saya tertarik untuk meneruskannya,” kata Henokh saat diwawancarai Bengkulunews.co.id Rabu (06/09/23) siang.

Siswa yang tengah bersekolah di SMAN 8 Bengkulu Utara ini, setiap harinya memiliki sederet rutinitas padat. Mulai dari  melakukan tanggung jawab sebagai seorang siswa, mengikuti bimble, berlatih vokal di Gereja, ekstrakurikuler musik di sekolah hingga belajar desain grafis.

Banyaknya rutinitas tersebut tidak membuatnya terhalang untuk meraih sederet prestasi. Sejumlah penghargaan mulai dari Juara satu Solo Song tingkat Kabupaten saat SMP, hingga pernah mendapatkan mendali emas lomba biologi yang diadakan oleh Pusat Kajian Nasional (PUSKANAS) dapat diraihnya.

Kehidupannya yang penuh dengan prestasi tersebut,, bukannya tidak menemukan rintangan. Justru banyak yang sudah Ia hadapi, terkhusus saat perlombaan kriya FLS2N se Provinsi tersebut. Dirinya menemukan rintangan dengan bahan baku untuk membuat kriya bertema mainan tradisional.

“Rintangannya itu untuk bahan utamanya. Jadi bahan utamanya inikan bulu ayam dan batok kelapa hibrida. Nah bulu ayam ini harus sama antara satu dengan yang lainnya, kalau batok itu susah mencari yang bentuk dan ukurannya pas. Tidak kebesaran sama tidak kekecilan, bentuknya harus bulat,” jelasnya.

Beruntung rintangan tersebut bisa dilalui, terlebih dalam hal ini peranan sang guru dalam menemukan bahan utama tersebebut sangat penting. Salah satu guru rupanya memiliki pohon kelapa hibrida, bahan utama yang Ia cari.

“Jadi saya ambil kelapa hibrida di sana, ya walaupun harus menunggu selama dua mingguan untuk kelapanya kering. Puji Tuhannya lagi saya dapat yang bentuknya sempurna. Walaupun sudah kelapa yang ke tiga belas,” ceritanya penuh semangat.

Belajar dari motivasinya bahwa  kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, mengantarkannya meraih sederet prestasi walaupun hal tersebut tidak jauh dari namanya rintangan. Siwa yang dikenal pendiam ini memiliki harapan bahwa ke depanya, Ia dapat mencoba kembali perlombaan dan masuk 10 besar nasional.

“Harapannya tahun depan mau coba ikut lomba fls2n lagi dan bisa masuk 10 besar nasional,” demikian Henokh.